Pages

Selasa, 16 Desember 2014

METABOLIT SEKUNDER

METABOLIT SEKUNDER PADA TANAMAN
KUMIS KUCING (Orthosipon aristatus Miq.)
Gambar.1 Tanaman Kumis Kucing
Sumber:www.khasiatstanamanobat.blogspot.com

Kumis Kucing adalah salah satu komoditas fitofarmaka yang sudah diperdagangkan skala internasional menjadi komoditi Ekspor. Sedangkan di Indonesia, kumis kucing banyak digunakan sebagai bahan baku jamu. kumis kucing atau yang biasa di kenal dalam bahasa latinya dengan nama Orthosiphon aristatus, tumbuhan ini biasanya digunakan oleh ibu rumah tangga sebagai tanaman hias. Tanaman ini termasuk kedalam jenis family Labiata atau Lamiaceae. Selain sebagai tanaman hias Kumis kucing juga sudah di kenal oleh masyarakat sebagai tanaman obat herbal yang sangat mujarab untuk mengobati berbagai macam penyakit. Jika ditinjau dari segi pengetahuan kimia, tumbuhan herbal ini kaya akan kandungan glikosida orthosiphonin, kandungan zat ini bermanfaat sebagai zat yang dapat melarutkan fosfor serta asam urat yang ada dalam tubuh kita, terutama pada bagian empedu serta kandung kemih, dan tentunya masih banyak lagi manfaat yang dapat kita peroleh dari tanaman obat yang satu ini.
Kumis kucing (Orthosipon aristatus Miq.) menjadi tanaman utama pada program Saintifikasi Jamu, karena tanaman ini dimanfaatkan sebagai produk minuman fungsional bagi penderita penyakit degeneratif karena dapat membantu memperbaiki fungsi ginjal. Senyawa kimia yang terdapat dalam daun kumis kucing antara lain adalah garam kalium, senyawa saponin, alkaloid, minyak atsiri, glikosida dan tanin. Kandungan bahan aktif utama yang paling stabil dalam daun kumis kucing adalah komponen senyawa sinensetin yang bersifat anti bakteri dan sinensetin telah dijadikan zat identitas simplisia kumis kucing (Rosita dan Nurhayati, 2004). Kumis kucing juga dilaporkan dapat menaikkan pengeluaran asam urat sehingga sering digunakan untuk obat rematik dan gangguan ginjal karena asam urat. Dosis yang lazim digunakan adalah 1 laki sehari 2,5 g daun yang direbus sehingga diperoleh cairan 1 cangkir. Dilaporkan bahwa akar (kandungan g-piron) dapat digunakan pada diabetes) Hasil penelitian lain terhadap Orthosiphon spicatus menyitir bahwa tidak menutup kemungkinan golongan senyawa yang mempunyai efek antiradang adalah flavonoid lipofil.
Garam kalium yang ada pada tanaman kumis kucing mampu melarutkan asam fosfat dan oksalat dalam tubuh (kandung kemih, ginjal, dan kemih) sehingga mencegah terjadinya pengendapan di ginjal (batu ginjal).
Saponin seperti sabun membentuk larutan koloidal dalam air dan membentuk busa bila digojog, berasa pahit menggigit,  menyebabkan bersin dan mengiritasi selaput lendir Adanya saponin  juga  dapat  membantu kelarutan  serta  absorbsi  obat. Dikarenakan kandungan saponin pada tanaman kumis kucing dapat mengatasi selaput lender maka kumis kucing dapat digunakan untuk obat keputihan.
Alkaloid mencakup senyawa bersifat basa yang mengandung satu atau lebih atom nitrogen, biasanya dalam gabungan, sebagai bagian dari sistem siklik. Alkaloid pada kumis kucing dapat membunuh bakteri dalam luka oleh sebab itu kumis kucing dapat digunakan untuk membantu mengeringkan luka.
Minyak atsiri yang dikandung daun kumis kucing sebesar 0,02-0,06% terdiri dari 60 macam sesquiterpens dan senyawa fenolik. Minyak atsiri dalam kumis kucing digunakan untuk mengatasi dyspepsia, gastritis, gangguan sirkulasi darah, antialergi, dan antiparitik.
Glikosida dari segi pandang biologi berperan dalam tumbuhan terlibat dalam fungsi pengaturan-penga-turan, perlindungan, dan kesehatan, sedangkan untuk manusia  ada   yang  digunakan  data pengobatan.  Dalam   segi   pengobatan, glikosida menyumbang hampir setiap  kelas pengobatan, misalnya sebagai  obat jantung. Oleh sebab itu kumis kucing dapat digunakan untuk obat jantung.
Tanin dianggap senyawa kompleks yang dibentuk dari campuran polifenol yang sangat sukar dipisahkan karena tidak dapat dikristalkan. Tanin umumnya terdapat dalam organ: daun, buah, kulit batang, dan kayu. Didalam tumbuhan letak tanin terpisah dari protein dan enzim sitoplasma, tetapi bila jaringan rusak, misalnya bila hewan memakannya maka reaksi penyamakan dapat terjadi. Reaksi ini menyebabkan protein lebih sukar dicapai oleh cairan pencernaan hewan.












                         








METABOLIT SEKUNDER PADA TANAMAN
LIDAH BUAYA (Aloe vera)
Gambar 2. Tanaman Lidah Buaya
Sumber:www.shanty.staff.ub.ac.id

Lidah Buaya adalah sejenis  tumbuhan yang sudah dikenal sejak ribuan tahun silam dan digunakan sebagai penyubur rambut, penyembuh luka, dan untuk perawatan kulit. Tumbuhan ini dapat ditemukan dengan mudah di kawasan kering di  Afrika. Seiring dengan kemajuan ilmu pengetahuan dan teknologi,  tanaman - tanaman lidah buaya berkembang sebagai bahan baku industri farmasi dan kosmetika, serta sebagai bahan makanan dan minuman kesehatan.
Lidah buaya mengandung banyak gizi yang dibutuhkan oleh tubuh. Komponennya dengan bentuk gel yang sebagian besar adalah air mencapai 99.5% jumlah total, serta dengan total padatan terlarut hanya 0,49 %, lemak 0,067 %, karbohidrat 0,043 %, protein 0,038 %, vitamin 0,49 %, vitamin C 3,476 mg (Furnawanthi, 2002). Sedangkan kandungan gizi yang tinggi di dalamnya adalah vitamin C. Kandungan metabolit sekunder dalam lidah buaya yaitu antara lain antrokuinon, Tanin, polifera, saponin, anthranoids, dan flavonoid.

Berikut beberapa kandungan lidah buaya dan manfaatnya:
a)      Antrokuinon pada lidah buaya untuk mengurangi gula dalam darah
Salah satu zat yang terkandung dalam lidah buaya adalah aloe emodin, sebuah senyawa organik dari golongan antrokuinon yang mengaktivasi jenjang sinyal insulin seperti pencerap insulin-beta dan -substrat1, fosfatidil inositol-3 kinase dan meningkatkan laju sintesis glikogen dengan menghambat glikogen sintase kinase 3beta, sehingga sangat berguna untuk mengurangi rasio gula darah. Selain itu, Menurut Ayurveda, pengobatan tradisional India, manfaat lidah buaya telah hipoglikemik. Yaitu dapat mengurangi glukosa darah (gula dalam darah) pada orang dengan diabetes.
b)      Tanin, polifera, dan saponin  pada lidah buaya untuk obat antiseptic & obat luka bakar
Tanaman lidah buaya daun dan akarnya mengandung saponin dan flavonoid, di samping itu daunnya mengandung tanin dan polifenol (Hutapea, 2000). Saponin ini mempunyai kemampuan sebagai pembersih sehingga efektif untuk menyembuhakan luka terbuka, sedangkan tanin dapat digunakan sebagai pencegahan terhadap infeksi luka karena mempunyai daya antiseptik dan obat luka bakar. Flavonoid dan polifenol mempunyai aktivitas sebagai antiseptic (Harborne, 1987).
c)      Anthranoids pada lidah buaya untuk obat pencahar
            Karena lidah buaya lateks (kuning jus diekstraksi dari lapisan luar daun) mengandung molekul dengan efek pencahar yang kuat (disebut "anthranoids"), tanaman bisa efektif dalam kasus-kasus sembelit. Manfaat ini juga diakui oleh WHO dan ditunjukkan dalam beberapa penelitian.
d)     Flavonoid pada lidah buaya untuk regenerasi kulit
                          Kaya antioksidan (flavonoid, vitamin C, beta-karoten), lidah buaya akan memiliki anti-penuaan. Sebuah studi yang dilakukan di Turki 2009, menunjukkan bahwa lidah buaya dapat membantu regenerasi jaringan kulit. Selain itu dapat memudarkan bekas luka dan garis garis putih/merah akibat kehamilan atau strecth mark, merawat luka kecil akibat teriris pisau dan tergores serta memudarkan bintik-bintik kehitaman pada kulit.
e)      Gel lidah buaya untuk membantu pencernaan
            Penelitian telah menunjukkan gel lidah buaya mampu mengusir dan membinasakan racun dan bahan asing lainnya yang biasanya menempel pada usus. Racun dan benda asing yang menempel pada usus sangatlah berbahaya sebab mengakibatkan akumulasi limbah sehingga dapat memblokir saluran usus dan mengurangi kemampuan tubuh untuk menyerap nutrisi. Manfaat lidah buaya adalah dapat menghilangkan limbah dan membantu dalam pengaturan asam. Hal tersebut dapat mencegah Anda dari menderita gangguan pencernaan dan juga dapat membersihkan darah serta meningkatkan sirkulasi normal.








                                                                                            











DAFTAR PUSTAKA

http://analisateknisia.blogspot.com/2008/10/aloe-vera-yo.html, diakses tanggal 12 April 2014 jam 08.00 WIB.
http://infokesehatanalami.wordpress.com, diakses tanggal 12 April 2014 jam 08.00 WIB.
http://www.vemale.com/kesehatan/41811-khasiat-daun-kumis-kucing.html, diakses tanggal 12 April 2014 jam 08.10 WIB.
http://trik-tips-sehat.blogspot.com/2013/04/manfaat-kumis-kucing.html, diakses tanggal 12 April 2014 jam 08.15 WIB.




0 komentar:

Posting Komentar